Suara Pembaruan, 10/04/2002
Saya ingin menjadi syuhada (martir), teriak Yasser Arafat berulang-ulang dalam siaran stasium Al-Jazeera setelah Israel mengisolasi dan melancarkan agresi militer di tempat perlindungannya di Ramallah, baru-baru ini. Arafat menambahkan bahwa Israel menginginkan dia mati, menjadi tawanan, atau dibuang (expel). Kecaman terhadap tindakan Israel segera mengalir dari berbagai belahan dunia. Indonesia turut mengutuk keras tindakan Israel tersebut.
Aksi
Israel mengisolasi Arafat di Ramallah disebabkan Presiden Palestina itu
dianggap paling bertanggung jawab terhadap intifadah. Khususnya serangan bunuh
diri yang amat meneror dan membuat rakyat Israel frustasi. Tuntutan Israel itu
didasarkan pada alasan bahwa Arafat merupakan ketua Otoritas Palestina yang
merupakan pemerintah de-facto di
Palestina. Namun, apakah benar Arafat merupakan orang yang paling bertanggung
jawab atas maraknya gelombang serangan bunuh diri? Apakah dapat dikatakan hal
itu terjadi akibat kelalaiannya bertindak keras terhadap pada calon pengebom
bunuh diri Palestina tersebut.
Akhir-akhir
ini hampir setiap hari kita mendengar adanya serangan bom bunuh diri rakyat
Palestina. Tindakan tersebut biasanya langsung direspon Israel dengan
melancarkan serangan militer ke wilayah Palestina. Akhir Januari lalu bahkan
seorang wanita yang anggota paramedic turus menjadi pelaku bom bunuh diri. Hal
ini sempat menimbulkan pro dan kontra di dunia Arab dan Islam. Apakah layak
seorang wanita melakukan serangan bunuh diri?
Terlepas
dari pro dan kontra tersebut, gerakan intifadah akhir-akhir ini telah memasuki
fase baru. Suatu tahapan yang lebih mengarah pada sikap frustasi dan patriotism
total rakyat Palestinal. Apabila sebelumnya gerakan bom bunuh diri tersebut
dilakukan oleh kaum lelaki dan umumnya anggota milisi, maka kini sebagian besar
rakyat Palestina siap menjadi martir bagi negaranya dengan melakukan serangan
bom bunuh diri. Cara itu dipilih karena dianggap cukup efektif untuk menghadapi
Israel. Hal ini juga terkait dengan ketidakberdayaan Palestina ketika
dihadapkan pada military might Israel.
Paling
sedikit ada dua sebab mengapa gerakan intifadah akhir-akhir ini semakin keras
(violent), dan memfokuskan apda serangan bom bunuh diri. Pertama, karena puncak
rasa frustasi rakyat Palestina. Bagaimana tidak, hamper 18 bulan ini sebagian
besar rakyat dan pemuda Palestina diisolasi oleh Israel. Isolasi ini
mengakibatkan ekonomi Palestina lumpuh, sehingga mereka banyak kehilangan
pekerjaan. Dengan kehidupan seperti itu tidak aneh bila akhirnya mereka
bertindak nekat.
Kedua,
sejak terpilihnya Ariel Sharon sebagai Perdana Menteri Israel, dia menunjukkan
sikap kerasnya terhaap masalah Palestina. Khususnya menghadapi intifadah rakyat
Palestina yang sebelumnya hanya diawali dengan lemparan batu dan serangan
konvensional. Sikap keras Sharon itu semakin membuat rakyat Palestina yakin
bahwa Israel (Sharon) tidak menginginkan berdirinya Negara Palestina. Alasan
ini membuat mereka rakyat Palestina melawan Israel dengan segala daya dan
upaya, termasuk mengorbankan nyawa.
Menurut
Ed Blanche, penggunaan bom bunuh diri di Timur Tengah dirintis oleh Partai
Sosialis-Nasionalis Suriah (SSNP). Upaya itu dilakukan untuk mengusir Israel
dari Beirut pada 1980-an. Waktu itu upaya tersebut cukup efektif, apalagi
kebanyakan yang menjalankan misi bunuh diri ialah wanita. Tidak heran baru-baru
ini Jaksa Agung AS. Ascroft, menuduh Suriah (juga Iran dan Irak) yang
menyebabkan kebuntuan penyelesaian konflik Palestina-Israel. Negara-negara itu
dinilai mendorong terjadinya serangan bunuh diri di Palestina tersebut. Selain
itu, pihak intelijen mengatakan bahan-bahan peledak untuk bom bunuh diri
tersebut diselundupkan ke Palestina melalui kapal yang masuk melalui Iran dan
Damaskus.
Selama
ini faksi-faksi militant Palestina yang aktif melancarkan serangan bunuh diri
di antaranya kelompok militant garis keras Jihad Islami, Brigade Martir Al-Aqsa
(sempalan kelompok Fatah pimpinan Yasser Arafat), dan Hamas. Beberapa kali
Araft mencoba meredam upaya serangan bunuh diri oleh faksi-faksi garis keras
tersebut. Termasuk di antaranya membubarkan Brigade Martir Al-Aqsa (BMA) yang
berada di bawah faksi Fatah pimpinan Arafat.
Seruan
Arafat itu tidak dipatuhi, dan malahan ditolak. Hal ini menandakan bahwa
pengaruh Arafah difaksinya sendiri mulai memudar. Apalagi ia dikelilingi oleh
orang-orang garis keras seperti Marwan Barghouti. Dilain pihak, fenomena baru
dari eskalasi intifadah kali ini adalah bersatunya faksi-faksi garis keras
Palestina dalam melawan musuh bersama mereka, yaitu Israel. Selama ini faksi
Fatah dan faksi-faksi militant Islam Palestina sulit bersatu ibarat minyak
dengan air.
Kembali
kepada kebijakan Sharon yang mengisolasi Arafat dan agresi di Ramallah guna
meredam aksi bom bunuh diri, tampaknya juga tidak lebih dari tindakan frustasi
Sharon. Khususnya menghadapi intifadah fase baru. Sikap itu juga dilandasi
gagalnya usaha Sharon membujuk AS supaya memutuskan hubungan dengan Arafat.
Mungkin Sharon bermaksud mengisolasi Arafat supaya timbul perpecahan di
Otoritas Palestina. Dengan Arafat diisolasi, maka pemerintahan Palestina tidak
berjalan dan akan muncul pemimpin baru menggantikan Arafat.
Jika
kemungkinan itu benar, kebijakan Sharon itu sungguh absurd dan amat riskan.
Kalau nantinya benar-benar mucul pemimpin baru (jika Arafat tewas misalnya,
meskipun pejabat Israel menjamin tidak akan demikian), apakah bisa dijamin
bahwa pengganti Arafat tersebut akan sekelas Arafat? Daya tahan Arafat sehingga
dapat memegang tampuk pimpinan Palestina hingga kini karena sikap yang lentur
dan kepiawaiannya berdiplomasi. Baik terhadap AS maupun Israel.
Sinyalemen
menyebutkan bahwa calon kuat pengganti Arafat ialah Ketua Parlemen PA Ahmad
Qurey (Abu Qurey). Namun, Abu Qurey belum teruji kepemimpinan, kelenturan, dan
kepiawaiannya dalam berdiplomasi. Karena itu, kebijakan Sharon mengisolasi
Araft tidak akan membaha hasil apapun, termasuk meredam serangan bunuh diri
yang amat ditakuti rakyat Israel.
Dalam
kaitan itu, dapat disimpulkan bahwa kejadian di Palestina terakhir ini adalah
benturan kebijakan frustasi Sharon dan rasa frustasi rakyat Palestina. Rasa
frustasi itu diwujudkan dengan serangan bom bunuh diri yang ternyata cukup
efektif. Namun, keadaan ini berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Apalagi
dengan sikap Bush yang seolah-olah member lampu hijau terhadap agresi Israel
tersebut dengan mengatakan bahwa tindakan Sharon tersebut “dapat dimengerti”.
Karena itu, perlu intervensi dunia internasional untuk mengatasi hal ini.
Khususnya intervensi AS, PBB, Uni Eropa, maupun dunia Arab sendiri.
-----------------------------------------------
Penulis adalah pengamat masalah internasional, tinggal di Damaskus, Suriah.
Penulis adalah pengamat masalah internasional, tinggal di Damaskus, Suriah.
Source: http://suarapembaruan.com/News/2002/04/10/Editor/edi01.htm

No comments:
Post a Comment