Translate

Wednesday, September 23, 2009

Libya, Eropa Barat, dan Rusia

KOMPAS, Rabu, 23 September 2009 | 02:58 WIB

Benny YP Siahaan

Insiden dibebaskannya warga Libya, Abdel Basset Ali al-Megrahi, pertengahan Agustus lalu memicu kemarahan publik Eropa Barat dan AS.

Mantan pejabat intelijen Libya yang didakwa terlibat peledakan bom di pesawat Pan-Am itu dilepaskan pengadilan Skotlandia dengan alasan kemanusiaan. Al-Megrahi menderita kanker prostat stadium akhir, sisa hidupnya diperkirakan hanya tiga bulan lagi.


Api kemarahan atas pembebasan Al-Megrahi kian meluas ketika ia disambut bak pahlawan saat tiba di Libya.

Pada hari yang sama, Presiden Swiss Hans-Rudolf Merz di Tripoli meminta maaf kepada Moammar Kadhafy atas insiden penangkapan putra Kadhafy di Geneva tahun lalu. Permintaan maaf itu memicu kemarahan publik Swiss dan menimbulkan polemik berkepanjangan di media Swiss.

Di Inggris beredar isu Pemerintah Inggris mendapat imbalan kesepakatan energi yang menguntungkan British Petroleum (BP) di Libya. Sementara di Swiss beredar isu Kadhafy mengurangi ekspor energi Libya ke Swiss dan mengancam menarik tujuh miliar dollar AS, asetnya dari rekening bank di Swiss.

Ketergantungan gas

Terlepas dari itu, dua insiden itu cukup unik karena jarang sekali negara Eropa Barat yang terkenal ”congkak” dan ”tinggi hati” mau tunduk pada tekanan dari negara berkembang.

Kemarahan dan perasaan malu publik Inggris dan Swiss atas tindakan pemerintahnya dapat dimengerti. Namun, jika dikaji lebih dalam, sebenarnya Pemerintah Inggris dan Swiss tidak senaif itu. Sebenarnya, hal ini tidak lepas dari pertarungan kebijakan geo-strategik Eropa Barat dan Moskwa yang membuat Inggris dan Swiss ”menutup mata” atas kemarahan publiknya. Ada beberapa alasan dan implikasi dari dua kejadian itu.

Pertama, sebentar lagi Eropa akan memasuki musim dingin. Hal ini mengingatkan trauma mereka atas krisis gas Ukraina tahun 2005-2006 dan awal 2009 saat Rusia menaikkan harga gas kepada Ukraina yang membuat negara-negara Uni Eropa/Eropa Barat dan sejumlah negara Eropa Timur kelabakan. Berdasar data statistik 2006, ketergantungan Eropa Barat pada gas Rusia adalah 150 miliar meter kubik (bcm) atau 25 persen dari kebutuhan UE. Tindakan Inggris dan Swiss itu tidak lain sebagai upaya untuk lepas dari ketergantungan atas energi dari Rusia.

Sejauh ini, alternatif pasokan energi bagi Eropa Barat ada di Timur Tengah dan Afrika Utara, yaitu pada negara-negara seperti Iran, Irak, dan Libya. Iran memiliki pasokan gas alam yang cukup untuk kebutuhan Eropa Barat. Namun, pengembangan infrastruktur untuk mengirimkan gas melalui jaringan pipa lewat Turki memerlukan kondisi politik yang kondusif di Teheran.

Pilihan pada Libya

Dengan situasi politik Iran sekarang, apalagi dengan kericuhan pasca-pemilu Iran, Juni lalu, sulit diprediksi apakah pemerintahan Ahmadinejad bersedia mengekspor gasnya kepada musuh. Sementara Irak kacau dalam hal politik dan keamanan. Karena itu, pilihan rasional sementara ini jatuh pada Libya.

Kedua, lancarnya pasokan energi dari Libya akan mengurangi ketergantungan pasokan energi dari Rusia dan akan meningkatkan kemampuan Eropa Barat menghadapi strategi geopolitik Moskwa.

Ketiga, dari perspektif psikologis, kemarahan publik Inggris dan Swiss dapat dilihat sebagai kegelisahan dua negara kaya yang harus menerima paradoks: tunduk kepada ego Kadhafy, pemimpin negara berkembang. Namun, jika Eropa Barat ingin lepas dari cengkeraman ketergantungan energi dari Rusia, tampaknya pada masa datang mereka harus siap untuk terus bersikap rendah hati dan menelan pil pahit tunduk pada kemauan negara berkembang seperti Libya.

Keempat, saat ini kredibilitas Pemerintah Skotlandia sedang diuji atas keputusan membebaskan Al-Megrahi. Jika dalam tiga bulan atau setidaknya dalam enam bulan mendatang Al-Megrahi belum juga wafat, kelangsungan hidup Pemerintah Skotlandia sekarang dapat terancam.

Kelima, saat ini Al-Megrahi telah berada di Libya. Penyangkalannya yang konsisten di pengadilan Skotlandia atas keterlibatannya dalam peledakan bom di pesawat Pan-Am 103 merupakan ”pengakuan” terakhirnya. Bagi Libya, Al-Megrahi adalah pahlawan. Dia setia menutupi atasan dan pemerintahnya sampai akhir.

Benny YP Siahaan Pemerhati Masalah Internasional, Tinggal di Geneva, Swiss

(Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/23/02585382/.libya.eropa.barat.dan.rusia)

No comments:

Post a Comment