KOMPAS
Senin, 5 April 2010 |
04:20 WIB
Jakarta,
Kompas - Anak dengan autisme bisa mencapai kemajuan dan mengatasi ketertinggalan.
Di Indonesia, akses masyarakat pada informasi ataupun tenaga pendukung
penanganan anak penyandang autis masih terbatas. Hal ini menimbulkan rasa putus
asa, keresahan, dan kebingungan orangtua.
Demikian
diungkapkan Gayatri Pamoedji, pendiri Masyarakat Peduli Autisme (Mpati)
sekaligus konselor keluarga, di sela acara ”Tanya Jawab Seputar Autisme”, Sabtu
(3/4). Dalam kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Autisme
Sedunia 2010 itu diluncurkan pula buku karya Gayatri Pertanyaan dan Jawaban
Seputar Autisme.
Autisme
merupakan gangguan perkembangan yang kompleks pada anak. Gejala kerap tampak
sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan itu memengaruhi kemampuan berkomunikasi,
berinteraksi sosial, dan perilaku (hidup dalam dunianya sendiri). Diperkirakan,
sekitar 67 juta orang di dunia menyandang autisme. Autisme diyakini sebagai
gangguan perkembangan serius yang meningkat pesat di dunia.
Gayatri
mengatakan, anak dengan autisme dapat mencapai kemajuan. Untuk itu, dibutuhkan
diagnosis akurat, pendidikan yang tepat, dan dukungan yang kuat. ”Hanya saja,
orangtua harus bersabar. Tidak ada terapi bagus yang sifatnya memberi perbaikan
secara instan,” ujar Gayatri, ibu dari remaja penyandang autis.
Dalam
bukunya, Gayatri memaparkan, di negara maju tidak sedikit anak dengan autisme
tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berhasil.
Tidak
semua anak dengan autisme memiliki intelegensia rendah. Ada yang rata-rata,
normal, bahkan di atas rata-rata. Secara umum, anak dapat dikatakan ”sembuh”
jika mampu hidup mandiri (sesuai tingkat usia), berperilaku normal,
berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan lancar. Hal itu bergantung pada
derajat keparahan autis, usia, tingkat kecerdasan, dan kemampuan berbahasa
anak. Ciri autisme tidak akan hilang sepenuhnya.
Gayatri
meyakini, dengan tersedianya cukup informasi akurat, sarana pendidikan, dan
pelatihan yang tepat serta dukungan kuat dari pemerintah dan masyarakat luas,
masa depan anak penyandang autis akan lebih baik.
Belum bisa dipastikan
Igor
Tabrizian, pakar autisme dan nutrisi dari Australia, yang menjadi salah satu
pembicara, mengatakan, penanganan autisme pada dasarnya harus dilakukan secara
sistemik dengan penekanan kepada perbaikan sistem pencernaan, otak, pengurasan
racun, terutama logam berat dari dalam tubuh.
Dia
juga meyakini, diet yang tepat dapat sangat bermanfaat bagi anak dengan
autisme.
Sementara
penyebab autisme masih belum dapat dipastikan. Beberapa pemicu yang dicurigai,
antara lain genetik, kandungan logam berat, permasalahan selama dalam
kandungan. (INE)
No comments:
Post a Comment