Oleh Benny YP Siahaan
Suara Pembaruan, 20 Juni 2000
Pada Sabtu, 10 Juni 2000, secara mengejutkan dilaporkan Presiden Hafez Al-Assad meninggal dunia. Suriah mendadak berkabung setelah sekitar pukul 18.00 waktu setempat secara resmi TV/Radio Suriah mengumumkan meninggalnya Presiden mereka.
Sumber-sumber setempat mengatakan, sebenarnya Presiden Assad meninggalnya pada tengah hari akibat serangan jantung. Assad meninggal pada usia 69 tahun. Ada beberapa pertanyaan yang langsung mengedepan, Pertama, siapay yang menggantikannya? Kedua, bagaimana masa depan proses perdamaian Timur Tengah setelah Hafez Assad meninggal? Artikel ini mencoba menjawab keduat pertanyaan tersebut.
Selang sesaat setelah pemberitaan meninggalnya Assad, langsung dikabarkan Parlemen Suriah mengadakan sidang khusus. Suasana emosional dan mengharukan tampak terlihat di TV Suriah, para anggota perlemen bersidang sambil menangis. Sebagai pemimpin, di mata rakyat Suriah selama ini Hafez Assad memang terkenal sebagai pemimpin yang jujur dan bersih, selain terkenal tegas.
Tujuan sidang darurat parlemen tersebut, untuk mengubah konstitusi Suriah, terutama mengenai prasyarat umur calon Presiden Suriah yang paling sedikit 40 tahun. Arah sidang ini tampaknya sudah jelas, yaitu akan mengakomodasi umur Bashar Assad, putra Assad yang saat ini masih berumur 34 tahun. Sumber-sumber terbuka di Suriah mengatakan 90 persen kemungkinan Bashar Assad akan menggantikan ayahnya. Di Damaskus sendiri, tak lama setelah Presiden Assad meninggal, langsung berlangsung demonstrasi besar mendukung Hafez dan Bashar denga meneriakkan yel-yel nama mereka.
Sebenarnya, usul amandemen konstitusi ini memang sudah direncanakan oleh Komando Regional (Dewan Pimpinan) Partai Baath (partai yang berkuasa di Suriah), setelah pemioihan anggotanya yang baru. Dewan Pimpinan itu menggusur dahulu anggota tua konservatif Partai Baath dengan yang lebih promodernisasi untuk memuluskan jalan Bashar. Dengan meninggalnya Presiden Assad secara mendadak, maka momentum untuk mendesak melakukan amandemen konstitusi tersebut tidak dihindari lagi oleh parlemen Suriah.
Basil Assad
Dalam enam tahun terakhir ini, Bashar Assad kelihatan memang dipersiapan untuk menggantikan ayahnya. Hal itu diawali setelah adanya krisis masa depan kepemimpinan Suriah akibat meninggalnya Basil Assad, kakak sulung Bashar pada 1994 akibat kecelakaan mobil. Basil, sebelum meninggal, dipersiapkan Hafez Assad untuk menggantikkannya. Basil, pada saat itu sukses membangun kepopulerannya di kalangan generasi muda Suriah. Peristiwa itu amat memukul Hafez Assad.
Pada 1994, perhatian sempat tertuju apda Abdul hakim Khaddam, Wapres Urusan Luar Negeri. Para kelompok Sunni sempat sangan mendukung Khaddam sebagai penggati Assad. Presiden Assad sendiri merupakan penganut sekte minoritas Alawit, salah satu pecahan islam Syiah, di tengah mayoritas Sunni.
Namun, move kelompok Sunni tersebut terhenti oleh faksi lain dibawah pimpinan Menteri Pertahanan, Jenderal Mustafa Tlass, yang lebih menjagokan Bashar Assad. Tlass saat itu sempat dituduh para lawan politiknya menggunakan Bashar sebagai pion untuk menyembunyikan ambisi pribadinya. Tapi dugaan tersebut meleset, karena ternyata Bashar tidak bisa didikte oleh Tlass, dan peran Bashar semakin besar dan penting dalam politik Suriah dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan dalam pembentukan cabinet Suriah Maret 2000 lalu, dikabarkan begitu jelas peran Bashar dalam penentuan menteri-menteri dalam kabinet tersebut.
Peran penting Bashar yang lain adalah dalam masalah pemberantasan korupsi di Suriah. Bukan rahasia umum lagi di Suriah, korupsi merupakan borok yang sulit dihilangkan dari pemerintahan Suriah. Upaya pemberantasan korupsi sudah diawali Basil.
Setelah kakaknya meninggal, Bashar segera ditunjuk Hafez Assad menggantikan tugas kakaknya dalam pemberantasan korupsi. Dalam pemberantasan korupsi itu, hasil yang paling besar adalah ketika Bashar berhasil menyeret mantan PM Mahmoud Al-Zoubi sebagai tersangka pelaku korupsi beserta beberapa pejabat tinggi lainnya, Mei lalu.
Guna memuluskan lagi jalan Bashar ke kursi kepresidenan, dalam beberapa tahun terakhir ini Bashar juga dikesankan sebagai arsitek modernisasi Suriah. Hal itu dinilai tepat oleh para pendukung Bashar untuk menguatkan image Bashar dimata rakyat Suriah sebagai calon presiden Suriah mendatang.
Dalam upaya modernisasi Suriah itu, Bashar dengan gigih memperjuangkan penggunaan telepon seluler di Suriah awal tahun ini meskipun mendapat tantangan dari kalangan militer dan intelejen. Hal itu juga diikuti dengan penggunaan internet yang juga dimulai pada awal tahun ini. Bashar merupakan ketua organisasi Masyarakat Komputer Suriah. Dalam jabaan formalnya, Bashar dokter mata lulusan Inggris dengan pangkat Kolonel.
Sementara reaksi internasional terhadap kematian Hafez Assad itu, sebagaian besar menyatakan terkejut dan sedih. PM Lebanon, Salim Hoss, langsung menyatakan libur satu minggu. Mantan PM Lebanon Rafik Hariri, menyatakan sulit membayangkan nasib proses perdamaian Timur Tengah tanpa Hafez Assad.
Dalam kaitan itu, sehubungan akan terpilihnya Bashar sebagai presiden Suriah mendatang, diperkirakan ia akan mendapat beberapa masalah. Pertama, adalah belum tergusurnya seluruh anggota tua partai Baath yang konservatif dalam Regional Command Partai Baath, yang umumnya belum sepenuhnya mendukung langkah-langkah pembaruan yang dilakukan Bashar. Meskipun jumlah mereka tidak mayoritas lagi, namun dikhawatirkan mereka dapat menjadi sandungan bagi Bashar di masa mendatang.
Kedua, Bashar belum sepenuhnya mendapat dukungan dari kalangan militer dan intelijen. Selama ini, baik pihak militer dan intelijen ini tidak berani terang-terangan berseberangan dengam hal-hal yang dilakukan Bashar mengingat kekuatan ayahnya. Salah satu isu friksi pihak militer dan intelijen dengan Bashar adalah masalah pengadaan internet di Suriah atas dorongan Bashar yang dinilai kalangan militer dan intelijen belum waktunya bagi Suriah.
Ketiga, lambannya laju perkonomian Suriah serta sulitnya memberantas wabah korupsi yang diwarisi BAshar dari pemerintah sebelumnya, dapat menjadi boomerang baginya dikemudian hari apabila ia tidak bisa denan cepat berkonsolidasi dengan kekuatan-kekuatan yang berseberangan dengan dirinya.
Memang saat ini terlalu pagi untuk membicarakan nasib perundingan Suriah-Israel berkaitan dengan wafatnya Hafez Al-Assad. namun demikian tidak bisan dipungkiri, wafatnya Hafez Assad telah membuka opsi-opsi baru bagi proses perdamaian melengkapi perkembangan terakhir ini, yaitu penarikan mundur Israel dari Lebanon Selatan dan krisis politik Israel.
Saat ini dapat dikatakan terdapat dua mazhab bagi Syriatolog dalam mengamati proses perdamaian Suriah-Israel. Kelompok pertama adalah mereka yang mendukung teori bahwa perundingan proses perdamaian Suriah-Israel akan dapat dilanjutkan lagi di masa medatang. Karena, citra Suriah “modern” yang dibangun Bashar Assad akan menguntungkan Suriah dalam perundingan perdamaian yang disponsori AS untuk mengakhiri keadaan no-war, no-peace dengan Israel. Hal tersebut akan melebarkan jalan Bashar Assad ke kursi kepresidenan.
Kelompok kedua, yang mendukung teori bahwa macetnya perundingan proses perdamaian saat ini telah mendesak Suriah untuk berkonsentrasi pada masalah-masalah domestic. Sebagai konsekuensinya, nasib perundingan Suriah-Israel akan tetap tidak jells dalam waktu lama. Hal ini diperkuat setelah gagalnya pertemuan Hafez Assad-Clinton di Jenewa Maret lalu. Dengan kata lain, reformasi internal (modernisasi) Suriah saat ini merupakan dampak macetnya perundingan jalur Suriah-Israel.
Beberapa pengamat menganggap, Suriah (dibawah Hafez Assad) beberapa tahun terakhir ini tidaklah sekeras sebelumnya. Suriah pertama kali berhasil diajak ke meja perundingan pada Konferensi Madrid pada 1991. Hal ini diperkirakan merupakan dampak dari banyak hal.
Pertama adalah mulai membaiknya hubungan AS dengan Suriah, setelah Suriah ikut bergabung pasukan perdamaian pimpinan AS menghantam Irak setelah invasi Irak ke Kuwait pada 1991. Meskipun hubungan tersebut membaik, namun AS tetap belum mau mencabut Suriah dalam daftar negara-negara sponsor teroris, suatu hal yang tidak disukai Suriah.
Kedua, sejalan dengan hilangnya Soviet sebagai negara adidaya, yang selama ini mendukung militer Suriah. Hal ini membuat Suriah berpikir, harus mengkaji ulang posisinya apabila bersikeral secara militer, yang akan kalah dengan melihat kenyataan semakin kuatnya supremasi militer Israel dengan dukungan AS.
Saat ini, yang menjadi batu sandungan dalam macetnya jalur Suriah-Israel adalah masalah Dataran Tinggi Golan. Selama ini posisi Suriah adalah menuntut pengembalian Dataran Tinggi Golan oleh Israel sampai garis perbatasan 1967, sebelum diambil Israel.
Sementara Israel tampaknya sangat berat melepaskan Golan, apalagi Suriah juga meminta akses ke Danau Galilea yang merupakansumber air terbesar bagi Israel. Israel sendiri, yang menganeksasi Golan pada 1981 melalui UU Israel, menyatakan pengembalian Golan harus melalui referendum, serta harus memikirkan jaminan keamanan bagi Israel, suatu hal yang langsung ditolak mentah-mentah Suriah.
Upaya terakhir guna mengembalikan kedua pihak ke meja perundingan terjadi ketika pertemuan Presiden Clinton-Assad di Jenewa Maret lalu yang gagal, ketika berbicara masalah Golan. Sruaiah dan Israel tidak mau mundur seinci dari posisinya. Dari konteks dalam negeri, diperkirakan apabila Bashar terpilih menjadi presiden Suriah mendatang, ia akan menghadapi masalah-masalah berat terutama mengenai proses perdamaian Timteng.
Memang dalam dua tahun belakangan ini ia telah diberi mandat ayahnya untuk mengurusi masalah Lebanon, yang sebelumnya dipegang Abdul Hakim Khaddam, Wapres Urusan Luar Negeri. Namun dalam usianya yang sangat muda ini Bashar boleh dikatakan cukup hijau menghadapi kompleksnya politik Timur Tengah. Tampaknya cukup sulit memprediksi bagaimana Suriah dalam proses perdamaian Timteng mengingat hijaunya pengalaman Bashar Assad.
Sebagai kesimpulan, wafatnya Hafez Assad tampaknya semakin membuat tidak jelas masa depat proses perdamaian Timur Tengah jalur Suriah-Israel. Hal ini disebabkan oleh belum jelasnya visi dan masa depat pemimpin Suriah di masa mendatang, ditambah lagi adanya krisis politik Israel belakangan ini.
Penulis adalah pengamat masalah internasional, tinggal di Damaskus, Suriah.
Suara Pembaruan, 20 Juni 2000
Pada Sabtu, 10 Juni 2000, secara mengejutkan dilaporkan Presiden Hafez Al-Assad meninggal dunia. Suriah mendadak berkabung setelah sekitar pukul 18.00 waktu setempat secara resmi TV/Radio Suriah mengumumkan meninggalnya Presiden mereka.
Sumber-sumber setempat mengatakan, sebenarnya Presiden Assad meninggalnya pada tengah hari akibat serangan jantung. Assad meninggal pada usia 69 tahun. Ada beberapa pertanyaan yang langsung mengedepan, Pertama, siapay yang menggantikannya? Kedua, bagaimana masa depan proses perdamaian Timur Tengah setelah Hafez Assad meninggal? Artikel ini mencoba menjawab keduat pertanyaan tersebut.
Selang sesaat setelah pemberitaan meninggalnya Assad, langsung dikabarkan Parlemen Suriah mengadakan sidang khusus. Suasana emosional dan mengharukan tampak terlihat di TV Suriah, para anggota perlemen bersidang sambil menangis. Sebagai pemimpin, di mata rakyat Suriah selama ini Hafez Assad memang terkenal sebagai pemimpin yang jujur dan bersih, selain terkenal tegas.
Tujuan sidang darurat parlemen tersebut, untuk mengubah konstitusi Suriah, terutama mengenai prasyarat umur calon Presiden Suriah yang paling sedikit 40 tahun. Arah sidang ini tampaknya sudah jelas, yaitu akan mengakomodasi umur Bashar Assad, putra Assad yang saat ini masih berumur 34 tahun. Sumber-sumber terbuka di Suriah mengatakan 90 persen kemungkinan Bashar Assad akan menggantikan ayahnya. Di Damaskus sendiri, tak lama setelah Presiden Assad meninggal, langsung berlangsung demonstrasi besar mendukung Hafez dan Bashar denga meneriakkan yel-yel nama mereka.
Sebenarnya, usul amandemen konstitusi ini memang sudah direncanakan oleh Komando Regional (Dewan Pimpinan) Partai Baath (partai yang berkuasa di Suriah), setelah pemioihan anggotanya yang baru. Dewan Pimpinan itu menggusur dahulu anggota tua konservatif Partai Baath dengan yang lebih promodernisasi untuk memuluskan jalan Bashar. Dengan meninggalnya Presiden Assad secara mendadak, maka momentum untuk mendesak melakukan amandemen konstitusi tersebut tidak dihindari lagi oleh parlemen Suriah.
Basil Assad
Dalam enam tahun terakhir ini, Bashar Assad kelihatan memang dipersiapan untuk menggantikan ayahnya. Hal itu diawali setelah adanya krisis masa depan kepemimpinan Suriah akibat meninggalnya Basil Assad, kakak sulung Bashar pada 1994 akibat kecelakaan mobil. Basil, sebelum meninggal, dipersiapkan Hafez Assad untuk menggantikkannya. Basil, pada saat itu sukses membangun kepopulerannya di kalangan generasi muda Suriah. Peristiwa itu amat memukul Hafez Assad.
Pada 1994, perhatian sempat tertuju apda Abdul hakim Khaddam, Wapres Urusan Luar Negeri. Para kelompok Sunni sempat sangan mendukung Khaddam sebagai penggati Assad. Presiden Assad sendiri merupakan penganut sekte minoritas Alawit, salah satu pecahan islam Syiah, di tengah mayoritas Sunni.
Namun, move kelompok Sunni tersebut terhenti oleh faksi lain dibawah pimpinan Menteri Pertahanan, Jenderal Mustafa Tlass, yang lebih menjagokan Bashar Assad. Tlass saat itu sempat dituduh para lawan politiknya menggunakan Bashar sebagai pion untuk menyembunyikan ambisi pribadinya. Tapi dugaan tersebut meleset, karena ternyata Bashar tidak bisa didikte oleh Tlass, dan peran Bashar semakin besar dan penting dalam politik Suriah dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan dalam pembentukan cabinet Suriah Maret 2000 lalu, dikabarkan begitu jelas peran Bashar dalam penentuan menteri-menteri dalam kabinet tersebut.
Peran penting Bashar yang lain adalah dalam masalah pemberantasan korupsi di Suriah. Bukan rahasia umum lagi di Suriah, korupsi merupakan borok yang sulit dihilangkan dari pemerintahan Suriah. Upaya pemberantasan korupsi sudah diawali Basil.
Setelah kakaknya meninggal, Bashar segera ditunjuk Hafez Assad menggantikan tugas kakaknya dalam pemberantasan korupsi. Dalam pemberantasan korupsi itu, hasil yang paling besar adalah ketika Bashar berhasil menyeret mantan PM Mahmoud Al-Zoubi sebagai tersangka pelaku korupsi beserta beberapa pejabat tinggi lainnya, Mei lalu.
Guna memuluskan lagi jalan Bashar ke kursi kepresidenan, dalam beberapa tahun terakhir ini Bashar juga dikesankan sebagai arsitek modernisasi Suriah. Hal itu dinilai tepat oleh para pendukung Bashar untuk menguatkan image Bashar dimata rakyat Suriah sebagai calon presiden Suriah mendatang.
Dalam upaya modernisasi Suriah itu, Bashar dengan gigih memperjuangkan penggunaan telepon seluler di Suriah awal tahun ini meskipun mendapat tantangan dari kalangan militer dan intelejen. Hal itu juga diikuti dengan penggunaan internet yang juga dimulai pada awal tahun ini. Bashar merupakan ketua organisasi Masyarakat Komputer Suriah. Dalam jabaan formalnya, Bashar dokter mata lulusan Inggris dengan pangkat Kolonel.
Sementara reaksi internasional terhadap kematian Hafez Assad itu, sebagaian besar menyatakan terkejut dan sedih. PM Lebanon, Salim Hoss, langsung menyatakan libur satu minggu. Mantan PM Lebanon Rafik Hariri, menyatakan sulit membayangkan nasib proses perdamaian Timur Tengah tanpa Hafez Assad.
Dalam kaitan itu, sehubungan akan terpilihnya Bashar sebagai presiden Suriah mendatang, diperkirakan ia akan mendapat beberapa masalah. Pertama, adalah belum tergusurnya seluruh anggota tua partai Baath yang konservatif dalam Regional Command Partai Baath, yang umumnya belum sepenuhnya mendukung langkah-langkah pembaruan yang dilakukan Bashar. Meskipun jumlah mereka tidak mayoritas lagi, namun dikhawatirkan mereka dapat menjadi sandungan bagi Bashar di masa mendatang.
Kedua, Bashar belum sepenuhnya mendapat dukungan dari kalangan militer dan intelijen. Selama ini, baik pihak militer dan intelijen ini tidak berani terang-terangan berseberangan dengam hal-hal yang dilakukan Bashar mengingat kekuatan ayahnya. Salah satu isu friksi pihak militer dan intelijen dengan Bashar adalah masalah pengadaan internet di Suriah atas dorongan Bashar yang dinilai kalangan militer dan intelijen belum waktunya bagi Suriah.
Ketiga, lambannya laju perkonomian Suriah serta sulitnya memberantas wabah korupsi yang diwarisi BAshar dari pemerintah sebelumnya, dapat menjadi boomerang baginya dikemudian hari apabila ia tidak bisa denan cepat berkonsolidasi dengan kekuatan-kekuatan yang berseberangan dengan dirinya.
Memang saat ini terlalu pagi untuk membicarakan nasib perundingan Suriah-Israel berkaitan dengan wafatnya Hafez Al-Assad. namun demikian tidak bisan dipungkiri, wafatnya Hafez Assad telah membuka opsi-opsi baru bagi proses perdamaian melengkapi perkembangan terakhir ini, yaitu penarikan mundur Israel dari Lebanon Selatan dan krisis politik Israel.
Saat ini dapat dikatakan terdapat dua mazhab bagi Syriatolog dalam mengamati proses perdamaian Suriah-Israel. Kelompok pertama adalah mereka yang mendukung teori bahwa perundingan proses perdamaian Suriah-Israel akan dapat dilanjutkan lagi di masa medatang. Karena, citra Suriah “modern” yang dibangun Bashar Assad akan menguntungkan Suriah dalam perundingan perdamaian yang disponsori AS untuk mengakhiri keadaan no-war, no-peace dengan Israel. Hal tersebut akan melebarkan jalan Bashar Assad ke kursi kepresidenan.
Kelompok kedua, yang mendukung teori bahwa macetnya perundingan proses perdamaian saat ini telah mendesak Suriah untuk berkonsentrasi pada masalah-masalah domestic. Sebagai konsekuensinya, nasib perundingan Suriah-Israel akan tetap tidak jells dalam waktu lama. Hal ini diperkuat setelah gagalnya pertemuan Hafez Assad-Clinton di Jenewa Maret lalu. Dengan kata lain, reformasi internal (modernisasi) Suriah saat ini merupakan dampak macetnya perundingan jalur Suriah-Israel.
Beberapa pengamat menganggap, Suriah (dibawah Hafez Assad) beberapa tahun terakhir ini tidaklah sekeras sebelumnya. Suriah pertama kali berhasil diajak ke meja perundingan pada Konferensi Madrid pada 1991. Hal ini diperkirakan merupakan dampak dari banyak hal.
Pertama adalah mulai membaiknya hubungan AS dengan Suriah, setelah Suriah ikut bergabung pasukan perdamaian pimpinan AS menghantam Irak setelah invasi Irak ke Kuwait pada 1991. Meskipun hubungan tersebut membaik, namun AS tetap belum mau mencabut Suriah dalam daftar negara-negara sponsor teroris, suatu hal yang tidak disukai Suriah.
Kedua, sejalan dengan hilangnya Soviet sebagai negara adidaya, yang selama ini mendukung militer Suriah. Hal ini membuat Suriah berpikir, harus mengkaji ulang posisinya apabila bersikeral secara militer, yang akan kalah dengan melihat kenyataan semakin kuatnya supremasi militer Israel dengan dukungan AS.
Saat ini, yang menjadi batu sandungan dalam macetnya jalur Suriah-Israel adalah masalah Dataran Tinggi Golan. Selama ini posisi Suriah adalah menuntut pengembalian Dataran Tinggi Golan oleh Israel sampai garis perbatasan 1967, sebelum diambil Israel.
Sementara Israel tampaknya sangat berat melepaskan Golan, apalagi Suriah juga meminta akses ke Danau Galilea yang merupakansumber air terbesar bagi Israel. Israel sendiri, yang menganeksasi Golan pada 1981 melalui UU Israel, menyatakan pengembalian Golan harus melalui referendum, serta harus memikirkan jaminan keamanan bagi Israel, suatu hal yang langsung ditolak mentah-mentah Suriah.
Upaya terakhir guna mengembalikan kedua pihak ke meja perundingan terjadi ketika pertemuan Presiden Clinton-Assad di Jenewa Maret lalu yang gagal, ketika berbicara masalah Golan. Sruaiah dan Israel tidak mau mundur seinci dari posisinya. Dari konteks dalam negeri, diperkirakan apabila Bashar terpilih menjadi presiden Suriah mendatang, ia akan menghadapi masalah-masalah berat terutama mengenai proses perdamaian Timteng.
Memang dalam dua tahun belakangan ini ia telah diberi mandat ayahnya untuk mengurusi masalah Lebanon, yang sebelumnya dipegang Abdul Hakim Khaddam, Wapres Urusan Luar Negeri. Namun dalam usianya yang sangat muda ini Bashar boleh dikatakan cukup hijau menghadapi kompleksnya politik Timur Tengah. Tampaknya cukup sulit memprediksi bagaimana Suriah dalam proses perdamaian Timteng mengingat hijaunya pengalaman Bashar Assad.
Sebagai kesimpulan, wafatnya Hafez Assad tampaknya semakin membuat tidak jelas masa depat proses perdamaian Timur Tengah jalur Suriah-Israel. Hal ini disebabkan oleh belum jelasnya visi dan masa depat pemimpin Suriah di masa mendatang, ditambah lagi adanya krisis politik Israel belakangan ini.
Penulis adalah pengamat masalah internasional, tinggal di Damaskus, Suriah.
No comments:
Post a Comment