Oleh
Benny YP Siahaan
Pertengahan Agustus lalu Pemerintah Indonesia memprotes karikatur
rasial yang menggambarkan Tim Putri Volley pantai Indonesia sebagai orang utan di
harian Boston Globe. Kita marah, kecewa. Kok tega-teganya orang Indonesia disamakan dengan orang utan. Tapi ada
komentar menarik dari seorang rekan yang mengatakan bahwa itu adalah “buah” dari
apa yang kita proyeksikan kepada dunia luar dan
akhirnya menjadi asosiasasi mereka terhadap kita (Indonesia). Dia mengingatkan pada suatu era dimana Orang Utan menjadi salah satu hewan maskot/ikon
dalam pariwisata kita.
Meski tidak
sepenuhnya setuju, saya jadi teringat
perbincangan ringan dengan warga asal Aljazair beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya bertugas di Jenewa, Swiss, dimana pada perkenalan pertama ketika memperkenalkan diri sebagai orang
Indonesia dia lantas nyeletuk, “Muslim?”, “Soekarno?” Mungkin di negaranya Indonesia diasosiasikan
dengan Islam dan Soekarno. Ini menunjukkan ada gap informasi mengenai Indonesia dewasa ini selain Presiden
Soekarno dan Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Saya pun
menjelaskan sedikit perkembangan di Indonesia. Di satu kesempatan lagi saya
bertemu warga AS yang menanyakan bagaimana kehidupan dengan maraknya terorisme
di Indonesia. Dalam benaknya (yang mungkin didapatnya dari media) warga
Indonesia sulit hidupnya akibat terorisme.
Asosiasi orang
utan dan peran media di atas menjadikan saya berpikir betapa pentingnya isu “branding” dan kerja media massa bagi suatu negara
karena apa yang kita presentasikan ke dunia luar akan menjadi asosiasi orang
terhadap bangsa/negara.
Untuk ini (maaf)
Indonesia amat ketinggalan dan nampaknya
berbagai instansi terkait khususnya
kementerian pariwisata tidak konsisten. Australia kerap diasosiasikan dengan
kanguru/koala atau gedung opera Sydney. Malaysia sekarang dengan Menara
kembarnya. Atau Singapura dengan patung Singanya. Jepang dengan sushi nya. Brazil dengan patung
Yesusnya dan banyak lagi. Belakangan ini kita asik menjual komodo, terkadang
burung cendrawasih (sebagai logo pariwisata). Menurut saya kita harus fokus dan
konsisten mana yang kita pilih.
Akibat tidak
konsistennya soal branding tadi,
sekarang pun kita merasakan bagaimana sulitnya
meningkatkan pariwisata yang dari tahun ke tahun angkanya tidak pernah
signifikan. Singapura dan Malaysia sudah jauh melampaui kita. Dari sekitar 8
juta-an jumlah turis yang masuk separuh lebih ke Bali. Tidak heran, di luar
negeri banyak yang belum tahu kalau Bali itu adalah bagian dari Indonesia.
Mereka baru tahu Indonesia ketika akan serius ke Bali saat membeli tiket atau
memerlukan visa.
Menyedihkan memang,
sebagai negara dengan penduduk terbesar
ke-4 di dunia tidak dikenal selain Bali. Nampaknya instansi terkait
seperti Kemenpar perlu untuk duduk bersama secara serius menangani hal
ini. Banyak hal yang perlu dibahas dan ditentukan mana branding yang akan dijual ke dunia luar baik dari sebagai maskot/ikon yang akan diasosiasikan sebagai
Indonesia, seperti maskot hewan, kuliner, gedung/bangunan. Dalam hal ini rendang
mungkin dapat dijual sebagai maskot kuliner Indonesia, atau Borobudur dapat
dipakai sebagai maskot bangunan Indonesia. Hal ini akan menunjukkan bahwa
Indonesia sebagai negara pluralis meski memiliki penduduk Muslim terbesar.
Sekarang Kemenpar berlogo pura Hindu tetapi digambarkan kurang menarik
sehinggga memiliki nilai siginifikan bagi orang untuk ingin tahu lebih banyak.
Mungkin akan lain dampaknya jika dipakai Borobudur.
Ini berkaitan
dengan turisme religious. Banyak negara yang tidak perlu repot-repot menjual
turisme-nya kepada dunia jika itu berkaitan dengan religiositas. Saya mendukung
ide ini dan sudah beberapa yang sudah
menyampaikan tetapi belum ditanggapi bahan masih pro kontra. Ada beberapa
tempat religious di Indonesia seperti Borobudur atau Prambanan yang dapat di”proyeksikan”
kepada dunia luar sebagai obyek wisata religious dan jika sudah “jadi” maka
biaya promosinya tidak akan sulit karena wisatawan akan datang sendiri. Bisa
kita lihat wisatawan ibadah berbondong-bondong
umrah ke Saudi, Vatican di Itali, atau Lourdes
di Perancis.
Kita kerap
membaca pejabat Kemenpar dari tahun ke tahun mondar-mandir ke AS mempromosikan
pariwisata Indonesia. Tidak ada yang salah dengan itu. Dengan jumlah wisatawan
AS yang tidak signifikan nampaknya mereka tidak bisa membaca pasar yang digarap.
Bagi warga AS, Indonesia terlampau jauh dan melelahkan terutama bagi wisatawan yang berusia 40 ke
atas (mapan dan berduit). Perlu hampir 2
hari ke Indonesia dari AS. Turis AS umumnya ke Amerika Latin dan Tengah yang juga
memiliki udara tropis. Atau ke Eropa yang perlu 7-10 jam. Dengan pergeseran
ekonomi dunia ke Asia, mungkin sudah saatnya kita fokus promosi pariwisata Indonesia
kepada negara-negara Asia.
Intinya, selain infrastruktur dan promosi yang baik, pemilihan branding secara hati-hati dan konsisten sangat penting untuk menjual Indonesia kepada dunia luar.
Intinya, selain infrastruktur dan promosi yang baik, pemilihan branding secara hati-hati dan konsisten sangat penting untuk menjual Indonesia kepada dunia luar.
Mudah-mudahan ke depan manusia Indonesia tidak diasosiasikan lagi dengan orang utan.
New
York, 13 September 2015

No comments:
Post a Comment